Untuk trip Bangkok selanjutnya kapan-kapan ya...
Pernah ga Kalian berfikir, bahwa kehidupan flat-flat aja atau kehidupan kok banyak sekali cobaan. Hmmm kalau aku ada di posisi itu, apa yang aku lakukan....
Aku lakukan coba ingat-ingat Tuhan udah kasih kita apa?, kalau sekarang yang aku ingat pasti : Ingat waktu aku solo trip (single trip) di negara yang baru pertama kali aku menginjakkan kaki dan bahasa pun, masih dasar dan sedikit kosakata yang aku kuasai.
Di negara itu aku pernah tersesat, mau nangis, ga bisa nangis, mau teriak, ga ada guna, dan dengan modal nekad aku tanya sama penduduk asli, yah dia berusaha jelasin supaya aku bisa menuju stasiun lagi, tapi lagi-lagi aku ga tau maksudnya.
Dalam kegundahan hatiku (haduh, bahasa apa ini, kegundahan) dalam hati pasti aku bilang berkali2 "Ya Allah ampunilah dosaku, maafkan aku" selalu dan selalu aku kalau terhimpit dan tidak ada seseorang yang bisa menolongku, pasti bilangnya kayak gitu dalam hati...
Tiba-tiba seorang wanita, mungkin 50 tahun dan masih bugar, nyebrang bawa mobil di belakangnya ada cucunya perempuan (sepertinya cucunya bukan anaknya) dan aku berkali2 minta maaf dan dia bilang gpp, ga masalah, pakai bahasa sehari2nya dia (beruntung, pernah belajar bahasa itu, kalau engga, ga tau dia ngomong apa). Dan aku dianterin ke stasiun dengan ngebut bawanya. Sayang aku ga bisa foto dengan dia, karena aku benar2 panik bgt, takut ga bisa balik ke Indonesia.
Dinegara ini juga aku belajar bagaimana kita jujur ama diri kita sendiri. Jadi ceritanya, aku iseng masuk pintu masuk stasiun kereta, yang emang dinegara sana, ada yang di tutup ada yang di buka pintu masuknya.
Pada saat itu, aku cuma bilang dalam hati "Gila orang sini jujur amat, di Jakarta aja, kalau naik kereta kadang2 bisa ngelabu-in petugasnya", maksud jujur bagiku, udah tau pintu masuk stasiun, ga di tutup. Tapi dia tetap masukin tiket yang tujuannya untuk ngebuka palang pintunya.
Dan gw coba2 nih, ga ada petugas kereta yang berjaga di posnya, palang pintu terbuka. Terus nekad masuk tanpa tiket, walaupun ada tiket... Dan LOLOS HOREEEE
Makanya aku bisa ambil kesimpulan, orang-orang sini kok jujur-jujur banget...
Dan pernah ngobrol ama orang Indonesia udah 3 tahun disana, karena sekolah, ngobrol2nya sih ama PR yang udah 10 tahun disana, kebetulan aku ada disana, dan aku jadi tau. Mereka ngobrol tentang "Kalau disini penjara jarang ada yang kriminal, lah dompet sama hp aja, ketinggalan ditempat, ga berani dipindahin, atau kalau ga ada ditempat, karena dikasih ke polisi atau information, penjara yang ada banyakan orang yang ga sengaja nabrak orang"
Pernah ngalamin, kacamata ketinggalan di sebuah arena, baru ingat pas udah di stasiun, jam udah menunjukkan pukul setengah 6 malam, "lah, kacamata mana" dalam hati, dicarilah ditas, ga ada, ingat2 pernah ngelepas, pas mau foto... dan sepertinya aku harus balik kesana lagi...
Kalau disana beda pintu beda jalan, kalau di Jakarta, pintu barat, mau ke pintu timur tinggal nyebrang rel kereta... kalau disini BEDA BANGET, karena rel kereta api di pagarin, ya dipagarin bukan kayak rumah2 yang dipagarin pendek. Pernah liat pagar lapangan tennis ga?, ya seperti itu... jadi kalau mau dari Barat ke timur harus muter, sumpah ribet banget, tapi mungkin mereka udah terbiasa dengan mindset kayak gitu, jadi ga ada yang ngedumel...
Oke lanjut lagi, seharusnya aku ke pintu timur, tapi karena ah cuma barat dan timur doang kok, turunlah aku ke pintu barat, dan disana ada bus yang logo arena yang aku ketinggalan kacamata (kalau takut untuk kehilangan kacamata sih, bukan ini yang ditakutin, yang ditakuti, cuma, aku nginap ditempat yg memang aku belum ketemu orangnya, dan jaraknya juga jauh bgt dari tempat aku sekarang ke tempat dia dan tutup arenanya itu jam 8 malam). Langsung naik bus itu, sempat mau jalan dan aku berhentiin, diliatin orang sih, terus, aku cuek aja, ga penting sih, cuma diliatin aja, toh aku ga kenal mereka...Dan dipertengahan jalan, aku sempat liat ada yang janggal, yahhh kok jalan ini bukan jalan yang biasa aku lalui tadi, aduh bilang apa ya ke supirnya, yg bahasa inggris aja, ga bisa, oke modal nekad, hati bilang "lu mau nyasar, dan terus diam, ga kasihan apa lu ama keluarga lu di Jakarta" dan akhirnya aku bilang ke supirnya, sambil nunjukin kipas yang emang tulisan yang supir kuasain, dan ada mukjizat apa gitu tiba2 aku konek aja supirnya ngomong bhs planet, intinya dia bilang salah bus, bukan bus ini, naik ke bus lain aja, berhenti di halte ini, nanti jalan lagi ke halte ini. Dan gw mau kasih uang buat bayar busnya, tapi ditolak, yoweis deh makasih byk...
Dan diturunin gw dengan hormat dan sopan, padahal gw ngarepnya supir anterin gw ke stasiun dimana gw naik bus pertama kali, kalau ga ada penumpang mungkin gw bakal dianterin.. selama diperjalanan | dingin | sendiri aku benar-benar selalu mengucap dalam hati "Ya Allah ampunilah dosaku, maafkan aku" bukan Ya Allah kok jahat bgt aku tersesat atau Ya Allah tolong ada orang yang bantu aku tersesat... dan ketemu ibu2 yang udah aku ceritain diatas, yg nganterin aku kestasiun, padahal ngarep bgt anterin ke arenanya...
Sesampai aku distasiun, aku menuju pintu timur, dan baru tau aku klo pintu barat dan pintu timur, dibatasin sama rel kereta api yang dipagar kawat besi, aku turun nih lewat ekskalator. Dan shelter bus gratis ke arena sana ga ada, panik, liat di papan mading, jadwalnya udah disobek, stress menjadi2, apa ikhlasin aja kacamatanya, atau besok pagi balik lagi kemari, apa naik taxi, yang mungkin ke arenanya bisa klo di rupiahin jadi 1 juta, terus klo naik taxi? oleh2 bagaimana? berhubung belum beli? sumpah stress bgt aku pada saat itu jam juga udah jam 6 lewat belum jadi setengah 7, duduk di taman dekat pemberhentian bus, nanyalah aku ama cowo kerjaan (jujur cakep banget cowo ini), nanyanya panik gitu, amburadul bahasanya campur bahasa inggris sama bahasa setempat, terus dengan coolnya dia nunjukin jadwal shelter bus jam setengah tujuh dan masih ada di mading belum dicabut (Ya ampun, saking paniknya, segitu jadwal bus masih tertempel, kok dibilang udah dicabut), dan sepertinya cowo itu tau kalau aku panik, dia bilang just five minutes, dengan bahasa Inggris terbata2 dan menenangkan.
Akhirnya yang ditunggu2 datang, aku naik shelter bus itu gratis, dan sampai arena itu aku lari, ke tempat kasirnya, jelasin semuanya, kasirnya bilang udah dikasih ke information, karena aku kebelet pipis, dititipkan barang2nya ke tempat dia, eng ing eng keluar dari toilet, ketemu cowo itu lagi, sempat ngeliatin aku, lagi ngobrol ama teman cowonya juga, aduh pada saat itu aku lempeng aja biasa aja, karena dipikiranku cuma 'Kacamata sama Sampai ke tempat penginapan ga malam2 bgt'
langsung ambil barang2 dan move to 1st floor, jujur sempat nyesel bgt ga mengabadikan foto tempat disini Indah banget, mall tapi diluarnya pelabuhan gitu, laut yang banyak kapal2 besar, dan sama sekali ga bau amis. Cinta banget deh ama daerah ini.
Pas aku keluar shelter busnya juga mau jalan lagi, gw lambaikan tangan supaya supirnya berhenti. Akhirnya berhenti, sampai di stasiun jam berapa ya lupa, terus lanjut ke stasiun besar, lanjut kestatiun sedang dan lagi2 nyasar, contohnya nih, kita mau ke Depok, tapi naik ke arah kota, aduh akhirnya gw tanya ama petugasnya dengan tergesa2 jam 10 malam, kereta berhenti beroperasi jam 12 malam (stress ga tuh), untungnya dibeda rel ada tujuan yg gw maksud sambil petugasnya tunjuk2 ke kereta tsb. turun di stasiun yg dimaksud, naik lagi ke arah kereta yg berbeda, jam udh menunjukkan 11 malam, sekitar jam 12 malam gw turun lagi, naik lagi ke peron yang kereta tujuan tempat gw nginap, untung gw nginap di apatonya org Indonesia, jadi bisa ngomong bhs Indonesia, sampai stasiun jam 1/2 1 malam T_T untung dijemput didepan stasiun.
Dari kejadian diatas, aku ga menyalahkan kok bisa begini kok bisa begitu, cuma diambil hikmahnya, Alhamdulillah bisa naik mobil di kemudikan ibu2 asli orang sana, baru kenal, dan naik mobil dia gratis, yang di dalam mobil diisi dengan suara planet anak kecil dan ibunya serta tivi yang disetel di mobil, yang kedua, aku bisa liat gunung legendaris cuma karena aku bilang dalam hati "mana katanya ini daerah gunung tersebut, kok ga nampak2" dan pas turun dari shelter bus di stasiun aku melihat gunung itu dan lebih jelas melihat gunung itu dari dalam stasiun. Pdhl awal aku mau ke arena tersebut tidak ada gunung yang muncul. Semua peristiwa aku ambil hikmah positifnya..
Kembali ke awal, klo kehidupan aku flat2 aja atau banyak cobaan, aku akan flashback ke sepenggal cerita yang sebenarnya banyak yang aku alami, tapi cuma ini aja yang bisa aku share. Yah aku bahagia, setiap aku di titik nadir, aku bukan menyalahin Sang Pencipta, tapi lebih intropeksi kediri sendiri, contohnya kayak aku tersesat, pernah dicekik sama makhluk halus padahal aku sendirian di hotel ga ada siapapun cuma bisa bilang "Ya Allah ampunilah dosaku, maafkan aku"
Berharap pembaca bisa mengambil hikmah dari semua ini, jika kita tidak puas, coba ingat2 apa yang pernah kita dapat, yang benar2 berharga, mungkin bisa menambah syukur kita kepada Sang Khalik